Mengurai Eksistensi Manusia: Sintesis Konsep Tubuh, Ruh, dan Jiwa dalam Tiga Paradigma (Teologi, Filsafat, dan Sains Komputasi) Abstrak

 

Mengurai Eksistensi Manusia: Sintesis Konsep Tubuh, Ruh, dan Jiwa dalam Tiga Paradigma (Teologi, Filsafat, dan Sains Komputasi)

Oleh: Setio Budiono, S.Kom

Abstrak

Laporan ini menyajikan analisis multidisiplin tentang konsep esensial manusia: tubuh, ruh, dan jiwa. Dengan menggunakan analogi sistem komputer sebagai kerangka pedagogis, laporan ini mengintegrasikan wawasan dari teologi Islam, filsafat klasik, dan sains modern. Laporan ini berargumen bahwa model tubuh + ruh = jiwa bukanlah penjumlahan linier, melainkan sebuah interaksi kompleks di mana tubuh (jasad) adalah perangkat fisik (hardware), ruh adalah esensi ilahiah dan sumber kehidupan, dan jiwa (nafs) adalah entitas psikologis dan moral yang muncul dari persatuan keduanya. Laporan ini secara kritis mengkaji analogi komputer, menyoroti batas penjelasannya terutama dalam menghadapi "masalah sulit kesadaran" (the hard problem of consciousness) dalam neurosains, yang menunjukkan bahwa hakikat ruh dan pengalaman subjektif manusia tetap menjadi misteri yang melampaui pemahaman mekanistik.

 

Pendahuluan

Latar Belakang dan Tujuan

Sepanjang sejarah, manusia telah berupaya untuk memahami hakikat keberadaannya sendiri, sebuah pencarian abadi yang melintasi batas-batas spiritualitas, pemikiran rasional, dan penyelidikan ilmiah. Pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang apa yang menggerakkan kita, apa yang mendefinisikan individualitas kita, dan apa yang membedakan kita dari materi inorganik, telah melahirkan berbagai kerangka konseptual. Di antara yang paling menonjol adalah pemisahan tripartit atau trikotomi antara tubuh, ruh, dan jiwa. Konsep ini, yang berakar kuat dalam teologi dan filsafat, dapat menemukan jembatan pemahaman yang menarik melalui analogi kontemporer, yaitu sistem komputer. Tujuan dari laporan ini adalah untuk menyajikan sebuah "buku konsep" yang mendalam dan terintegrasi, yang menggunakan analogi komputer sebagai alat untuk mengurai kerumitan hubungan antara tubuh, ruh, dan jiwa, sambil secara jujur mengeksplorasi relevansi dan keterbatasan dari analogi tersebut.

Rumusan Masalah

Laporan ini berupaya menjawab beberapa pertanyaan fundamental. Pertama, bagaimana konsep tubuh, ruh, dan jiwa dipahami dan dibedakan dalam tradisi teologi Islam? Kedua, bagaimana pandangan-pandangan ini selaras atau berkonflik dengan dualisme substansi dari Platon dan Descartes serta hylomorphism dari Aristoteles? Ketiga, bagaimana analogi sistem komputer—dengan hardware, software, dan power supply—dapat berfungsi sebagai kerangka yang relevan untuk menjelaskan hubungan ini, dan di mana batas-batas penjelasannya? Terakhir, bagaimana temuan dari sains modern, khususnya neurosains dan studi psikosomatik, memberikan bukti empiris untuk interaksi antara pikiran dan tubuh, sambil secara bersamaan menegaskan kembali misteri yang tidak dapat dijelaskan?

Struktur Laporan

Laporan ini terbagi menjadi lima bab yang terstruktur secara logis. Bab 1 akan meletakkan fondasi teologis dengan menganalisis konsep ruh dan jiwa dalam Islam, didukung oleh Al-Qur'an dan pandangan ulama klasik. Bab 2 akan menyajikan perspektif filosofis dari dualisme dan integrasi tubuh-jiwa. Bab 3 secara eksplisit akan menerapkan analogi sistem komputer dan secara kritis menganalisis kekayaan dan keterbatasannya. Bab 4 akan mengkaji temuan dari sains modern untuk menemukan titik temu dan kesenjangan dengan konsep spiritual. Akhirnya, Bab 5 akan mensintesis semua temuan untuk menyajikan sebuah model holistik tentang manusia, yang mengakui batas-batas pengetahuan kita dan mengundang refleksi lanjutan.


 

Bab 1

Pondasi Konseptual dalam Teologi Islam: Misteri Ruh dan Eksistensi Jiwa

Dalam pandangan teologis Islam, hakikat manusia adalah sebuah konstruksi berlapis yang terdiri dari elemen-elemen yang berbeda namun saling terhubung. Konsep ruh dan jiwa (nafs) adalah pusat dari pemahaman ini, namun definisinya tidak selalu terpisah. Analisis mendalam menunjukkan adanya perbedaan dan interaksi yang kompleks antara keduanya, yang melampaui sekadar penjumlahan.

1.1 Definisi dan Hakikat Ruh: Misteri Ilahi dan Batasan Ilmu Manusia

Secara teologis, hakikat ruh ditempatkan sebagai sebuah misteri yang mutlak dan kepastiannya hanya diketahui oleh Allah SWT. Al-Qur'an secara eksplisit menegaskan hal ini dalam firman-Nya:

ÙˆَÛŒَسْÙ€َٔÙ„ُÙˆْÙ†َÙƒَعَÙ†ِالرُّÙˆْØ­ِۗÙ‚ُÙ„ِالرُّÙˆْØ­ُÙ…ِÙ†ْاَÙ…ْرِرَبِّÛŒْÙˆَÙ…َآاُÙˆْتِÛŒْتُÙ…ْÙ…ِّÙ†َالْعِÙ„ْÙ…ِاِÙ„َّاقَÙ„ِÛŒْÙ„ًا<

Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu tidak diberi pengetahuan kecuali hanya sedikit’” (QS. Al-Isra': 85).  

Ayat ini bukan hanya sebuah pernyataan teologis, tetapi juga berfungsi sebagai batasan epistemologis yang fundamental. Pernyataan "urusan Tuhanku" secara eksplisit membatasi jangkauan ilmu pengetahuan manusia untuk memahami hakikat ruh secara fisik atau mekanistik. Ini menyiratkan bahwa ruh bukanlah entitas yang dapat diukur, direduksi, atau sepenuhnya dipahami melalui metode ilmiah, yang menariknya selaras dengan diskusi kontemporer dalam neurosains tentang "masalah sulit kesadaran" (lihat Bab 4).

Para ulama klasik mencoba memberikan deskripsi, meskipun dengan batasan yang jelas. As-Suhaili, misalnya, menggambarkan ruh sebagai "suatu zat yang lembut seperti udara, ia beredar di seluruh tubuh bagaikan aliran air di dalam akar-akar pohon". Deskripsi ini menekankan sifat  ruh yang halus, non-materi, dan kemampuannya untuk menembus dan menghidupi seluruh entitas fisik. Dalam Al-Qur'an sendiri, kata   ruh juga digunakan dalam beberapa konteks lain, di antaranya untuk merujuk pada Al-Qur'an itu sendiri dan Malaikat Jibril , yang semakin memperkaya namun juga menegaskan kembali sifatnya yang luhur dan ilahiah.  

1.2 Sifat dan Tingkatan Jiwa (Nafs) dalam Pandangan Ulama Klasik

Berbeda dengan ruh yang bersifat misterius dan esensial, jiwa (nafs) adalah entitas yang lebih dapat dipahami karena manifestasinya dalam perilaku dan kesadaran manusia. Ibn Taimiyah dan Ibn Qayyim menjelaskan bahwa kata nafs memiliki berbagai pengertian, seperti udara yang keluar masuk badan, asap yang mengalir dalam darah, atau bahkan sifat-sifat psikologis. Konsep  

jiwa juga dipahami memiliki tingkatan yang saling bersaing, yaitu nafs mutmainnah (jiwa yang tenang), nafs lawwamah (jiwa yang mencela), dan nafs ammarah (jiwa yang memerintah keburukan). Kontradiksi atau pertarungan antara ketiga tingkatan  

jiwa ini menunjukkan bahwa jiwa adalah arena dari perjuangan moral dan psikologis. Menariknya, dalam percakapan sehari-hari, kita sering mendengar istilah "sakit jiwa," bukan "sakit roh," yang menguatkan gagasan bahwa jiwa adalah bagian dari diri yang rentan, dinamis, dan dapat mengalami perubahan atau "sakit".  

Para filsuf Muslim seperti Ibnu Sina dan Imam Ghazali juga memberikan kerangka yang sistematis untuk memahami jiwa. Ibnu Sina membagi jiwa ke dalam tiga tingkatan hierarkis: jiwa tumbuhan (melahirkan, tumbuh, makan), jiwa hewan (merasakan dan bergerak), dan jiwa rasional (berpikir dan memahami hal universal). Jiwa rasional inilah yang membedakan manusia. Imam Ghazali mendefinisikan  

nafs al-insaniyah (jiwa insani) sebagai "kesempurnaan awal bagi benda yang hidup dari segi melakukan perbuatan dengan potensi akal dan pikiran". Pandangan-pandangan ini menunjukkan bahwa  

jiwa adalah entitas yang mengoperasikan, berpikir, dan memiliki moralitas. Berbeda dengan ruh yang tunggal dan rahasia, nafs (jiwa) adalah entitas yang dapat berkembang dan merupakan arena pertumbuhan pribadi manusia.

1.3 Dialektika Tubuh, Ruh, dan Jiwa: Sebuah Hubungan Simbiotik

Berdasarkan penjelasan di atas, model tubuh + ruh = jiwa bukanlah sekadar penjumlahan matematis. Tubuh (jasad) adalah unsur fisik, ruh adalah energi ilahiah yang ditiupkan, dan jiwa (nafs) terbentuk sebagai entitas baru dari persatuan keduanya. Analoginya dapat dipahami sebagai fenomena  

emergensi (emergence), di mana sebuah entitas baru dengan sifat-sifat yang tidak ada pada unsur-unsur asalnya muncul dari interaksi elemen-elemen pembentuknya. Sebagai contoh, air memiliki sifat-sifat yang berbeda dari hidrogen dan oksigen yang membentuknya. Demikian pula, jiwa muncul sebagai fenomena yang lebih tinggi dari interaksi antara ruh dan tubuh, di mana jiwa adalah entitas yang mengoperasikan, berpikir, dan merasakan, yang terbentuk sebagai akibat dari penyatuan ruh dan tubuh. Oleh karena itu,  

ruh dapat dipandang sebagai sumber kehidupan yang ditiupkan ke dalam tubuh, sementara jiwa adalah sistem operasional atau entitas psikologis yang mengatur badan.  


 

Bab 2

 Perspektif Filsafat Klasik: Dualisme vs. Integrasi

Sejak zaman Yunani kuno, perdebatan filosofis tentang hubungan antara jiwa dan tubuh telah membentuk pemikiran kontemporer. Dua aliran pemikiran utama, dualisme dan hylomorphism, menawarkan kerangka yang berbeda namun sama-sama penting untuk memahami konsep manusia.

2.1 Dualisme Substansi: Dari Platon hingga Descartes

Dualisme substansi adalah pandangan bahwa jiwa (mind atau soul) adalah entitas non-fisik yang terpisah dan independen dari tubuh fisik. Platon, salah satu pendukung awal dualisme, berpendapat bahwa tubuh adalah sumber "masalah tak berujung" , sementara jiwa adalah "kemiripan dari yang ilahi". Ia berpandangan bahwa keunggulan fisik tidak serta-merta menghasilkan pikiran dan karakter yang baik, melainkan keunggulan pikiran dan karakter yang akan menghasilkan yang terbaik dari fisik yang diberikan.  

Rene Descartes, filsuf modern, mengembangkan dualisme substansi dengan membagi realitas menjadi dua zat yang fundamental: res extensa (zat fisik atau materi, yang meliputi tubuh) dan res cogitans (zat berpikir atau jiwa/pikiran). Titik tolak Descartes adalah keraguannya terhadap segala sesuatu yang dapat diragukan, termasuk keberadaan tubuhnya sendiri. Namun, ia menyimpulkan bahwa ia tidak dapat meragukan keberadaan pikirannya sendiri, yang termasyhur dalam ungkapannya,  

Cogito, ergo sum ("Aku berpikir, maka aku ada"). Kesimpulan ini menetapkan pikiran sebagai pengetahuan pertama dan paling pasti, yang keberadaannya terbukti terlepas dari keberadaan tubuh. Pandangan dualisme ini sejalan dengan konsep  ruh sebagai entitas ilahiah yang terpisah dari tubuh. Jika ruh adalah "rahasia Allah" yang ditiupkan, maka ia secara fundamental berbeda dari materi fisik, yang memberikan ruang konseptual bagi dualisme, di mana ruh berperan sebagai res cogitans atau zat non-fisik yang menghuni tubuh (res extensa).

2.2 Hylomorphism Aristoteles: Jiwa sebagai Bentuk dan Aktualitas Tubuh

Sebagai kontras dengan dualisme, Aristoteles mengajukan konsep hylomorphism, di mana jiwa (soul) dan tubuh (body) tidak dapat dipisahkan. Menurutnya, jiwa adalah "aktualitas" dari tubuh, atau bentuk dari suatu materi, seperti bentuk sebuah patung tidak dapat dipisahkan dari bahan batunya. Jiwa adalah apa yang membuat tubuh menjadi organisme hidup, yang memungkinkannya berfungsi, tumbuh, dan bereproduksi.  

Pandangan Aristoteles sangat menekankan peran indera dalam pembentukan pengetahuan dan pengalaman. Ia menyatakan, "Tidak ada di dalam jiwa yang tidak sampai di sana melalui indera.". Ini menyiratkan bahwa semua pemikiran dan pengalaman mental kita berakar pada input sensorik fisik. Model hylomorphism ini berfungsi sebagai jembatan konseptual menuju pemahaman neurosains modern. Dengan menyatukan jiwa dan tubuh, pandangan ini secara apik meramalkan temuan sains modern, di mana setiap proses mental dapat dipetakan ke aktivitas fisik di otak. Ini menunjukkan bahwa "jiwa" (  

nafs) tidak beroperasi secara independen, melainkan sebagai manifestasi dari aktivitas biologis dan neurologis yang terintegrasi.

Bab 3

Anatomi Manusia: Analogi Sistem Komputer sebagai Kerangka Pemahaman

Untuk mempermudah pemahaman tentang interaksi kompleks antara tubuh, ruh, dan jiwa, analogi sistem komputer sering digunakan. Kerangka ini memberikan gambaran yang intuitif, namun analisis kritis menunjukkan bahwa analogi ini memiliki keterbatasan mendasar.

3.1 Merumuskan Model: Komponen Dasar Analogi

Dalam kerangka ini, setiap komponen manusia dapat dipasangkan dengan elemen sistem komputer:

  • Tubuh (Jasad) sebagai Perangkat Keras (Hardware): Tubuh adalah mesin fisik, materi biologis yang dapat diamati dan dipelajari. Seperti halnya hardware seperti handphone , tubuh adalah wujud fisik yang digunakan oleh  

jiwa. Ia memiliki organ, jaringan, dan sistem saraf yang berfungsi sebagai struktur fisik.  

  • Jiwa (Nafs) sebagai Perangkat Lunak (Software): Jiwa diibaratkan sebagai "software" atau sistem operasional yang unik, personal, dan non-fisik yang mengoperasikan hardware. Jiwa adalah kumpulan sistem super canggih yang mengatur cara manusia berpikir, memilih, mengambil keputusan, dan menyampaikan emosi. Jiwa adalah "software" yang dapat diprogram dan memiliki profil pengguna yang unik, yang membuat setiap individu berbeda.  
  • Ruh sebagai Energi Universal: Ruh dianalogikan sebagai "energi listrik universal yang bikin semuanya nyala" atau "baterai energi". Ia adalah sumber daya esensial yang menghidupi  

jasad (hardware) dan jiwa (software). Tanpa adanya ruh, jasad dan jiwa tidak dapat beroperasi. Dalam konteks ini,   ruh adalah sumber kehidupan itu sendiri, sedangkan jiwa adalah yang mengoperasikan kehidupan tersebut.

Secara visual, analogi ini dapat disajikan dalam sebuah tabel untuk memperjelas perbandingannya:

Komponen Manusia

Analogi Sistem Komputer

Tubuh (Jasad)

Perangkat Keras (Hardware)

Otak

Unit Pemrosesan Pusat (CPU)

Pikiran

Perangkat Lunak (Software)

Emosi

Antarmuka Pengguna Grafis (GUI)

Jiwa (Nafs)

Sistem Operasi & Profil Pengguna

Ruh

Sumber Daya Universal (Universal Power Supply)

Ekspor ke Spreadsheet

3.2 Analisis Kritis: Keterbatasan dan Implikasi Analogi

Analogi ini sangat berguna sebagai alat bantu untuk memahami konsep-konsep abstrak, terutama dalam bidang Interaksi Manusia-Komputer (IMK) yang mempelajari bagaimana manusia dan komputer bekerja sama. Namun, analogi ini memiliki kelemahan mendasar yang menyoroti keunikan manusia.  

Kelemahan utama adalah perbedaan antara determinisme komputer dan sifat manusia. Komputer beroperasi berdasarkan algoritma deterministik, sedangkan manusia memiliki jiwa yang memiliki kehendak bebas dan moralitas (nafs ammarah, lawwamah, mutmainnah) yang unik. "Software" komputer tidak memiliki kesadaran, rasa, atau pengalaman subjektif yang dikenal sebagai   qualia.

Analogi ini gagal menjelaskan mengapa manusia memiliki pengalaman internal yang tidak dapat direduksi menjadi data fisik. Sebagai contoh, saat sebuah komputer menampilkan warna merah, ia hanya memproses data biner yang merepresentasikan warna tersebut. Sebaliknya, manusia tidak hanya memproses data tersebut tetapi juga mengalami merah itu secara subyektif—sebuah pengalaman internal yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan meneliti aktivitas neuron di otak. Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa ruh mungkin adalah entitas yang bertanggung jawab atas pengalaman subjektif yang tidak dapat dijelaskan oleh mekanisme otak.




 

Bab 4

Tinjauan dari Sains Modern: Neurosains dan Batasan Penjelasan

Sains modern, khususnya neurosains dan psikologi, telah berhasil memetakan banyak misteri tentang otak dan pikiran. Namun, di tengah kemajuan ini, sains juga secara jujur mengakui batas-batas penjelasannya, terutama dalam menghadapi fenomena kesadaran.

4.1 Psikologi Neurokognitif: Memetakan Fungsi Mental di Otak

Psikologi neurokognitif adalah cabang ilmu yang mempelajari proses mental melalui lensa neurologi dan kognisi. Bidang ini telah membuat kemajuan signifikan dalam mengidentifikasi bagaimana fungsi kognitif seperti memori, perhatian, pengambilan keputusan, dan bahasa berhubungan dengan struktur dan aktivitas di otak. Pengetahuan ini memungkinkan para ilmuwan untuk memetakan bagaimana otak melakukan berbagai "masalah mudah" dari kesadaran—yaitu, bagaimana sistem saraf memproses data sensorik dan memengaruhi perilaku. Kemampuan ini telah dimanfaatkan dalam pengembangan terapi dan deteksi dini untuk gangguan neurologis.  

4.2 Psikosomatik: Bukti Interaksi Pikiran-Tubuh

Konsep psikosomatik memberikan bukti empiris yang kuat tentang interaksi kausal antara pikiran (jiwa) dan tubuh (hardware). Gangguan psikosomatik adalah keluhan fisik yang diduga disebabkan atau diperburuk oleh faktor psikis seperti stres, cemas, atau depresi. Penderita dapat merasakan sakit fisik meskipun pemeriksaan medis tidak menemukan kelainan.  

Mekanisme di balik psikosomatik menunjukkan adanya interaksi yang intim dan mendalam. Ketika seseorang merasa takut atau stres, aktivitas listrik saraf otak ke berbagai bagian tubuh meningkat, memicu gejala seperti detak jantung cepat, mual, dan gemetaran. Stres juga diduga memicu pelepasan zat adrenalin yang memengaruhi sistem organ tubuh. Fenomena ini menunjukkan bahwa pikiran bukanlah sekadar hasil sampingan dari otak, melainkan memiliki kemampuan kausal untuk memengaruhi kondisi fisik. Temuan ini mendukung model yang lebih terintegrasi seperti hylomorphism Aristoteles dan memperumit analogi komputer yang cenderung menganggap software sebagai entitas yang hanya berinteraksi secara pasif dengan hardware.

4.3 "The Hard Problem of Consciousness": Kesenjangan Penjelasan antara Fisik dan Pengalaman Subjektif

Meskipun sains telah mampu menjelaskan bagaimana otak melakukan fungsi-fungsi kognitif, ada satu pertanyaan yang tetap menjadi teka-teki: "masalah sulit kesadaran" (The Hard Problem of Consciousness). Dicetuskan oleh filsuf David Chalmers, masalah ini berfokus pada pertanyaan mengapa dan bagaimana proses fisik di otak menghasilkan qualia—pengalaman subyektif yang terasa. Pertanyaan ini melampaui "masalah mudah" yang berkaitan dengan struktur dan fungsi, karena tidak ada penjelasan mekanistik yang dapat menjelaskan "mengapa kinerja fungsi-fungsi ini disertai dengan pengalaman?".  

Fenomena ini, yang disebut juga sebagai "kesenjangan penjelasan" (explanatory gap), adalah area di mana penjelasan materialistik modern menemui batasnya. Kita dapat memahami bagaimana sinyal neuron mengalir, tetapi kita tidak dapat menjelaskan mengapa aliran tersebut menghasilkan pengalaman sadar diri dan pengalaman internal. Ini adalah titik konvergensi utama antara sains, filsafat, dan teologi. Kesenjangan yang diakui oleh para ilmuwan dan filsuf modern ini adalah tempat yang sama di mana teologi menempatkan  ruh sebagai misteri ilahi. Dengan demikian,  

ruh dapat dilihat sebagai entitas yang bertanggung jawab atas "apa yang terasa" dari kesadaran, sebuah aspek eksistensi yang tidak dapat dijelaskan atau direduksi oleh sains.


 

Bab 5

Sintesis dan Kesimpulan: Menemukan Makna Holistik

Laporan ini telah mengintegrasikan pandangan-pandangan dari tiga paradigma utama untuk memberikan pemahaman holistik tentang manusia. Setiap perspektif memberikan kontribusi unik, yang secara kolektif melampaui keterbatasan masing-masing.

5.1 Rekonsiliasi Tiga Paradigma

  • Teologi memberikan fondasi spiritual dan metafisik yang tak tergantikan. Ia mendefinisikan ruh sebagai sumber kehidupan yang misterius dan ilahiah, dan jiwa (nafs) sebagai arena perjuangan dan pertumbuhan moral.
  • Filsafat menyediakan kerangka historis. Dualisme menyoroti kemungkinan pemisahan antara yang fisik dan non-fisik, yang relevan untuk memahami misteri ruh. Sementara itu, hylomorphism menekankan integrasi antara jiwa dan tubuh, yang sangat relevan dengan temuan sains modern.
  • Sains Modern memberikan pemahaman empiris yang solid tentang hubungan otak-pikiran. Melalui neurosains, kita dapat memetakan fungsi kognitif, dan melalui studi psikosomatik, kita memiliki bukti kuat tentang interaksi kausal antara pikiran dan tubuh. Namun, sains juga secara jujur mengakui batas penjelasannya dalam menghadapi masalah kesadaran, yang membuka ruang untuk pendekatan metafisik.

5.2 Kesimpulan Akhir: Model Sintesis yang Melampaui Definisi

Berdasarkan analisis ini, disimpulkan bahwa manusia adalah entitas kompleks yang tidak dapat direduksi menjadi satu analogi atau definisi tunggal. Model tubuh + ruh = jiwa bukanlah rumus linier, melainkan representasi dari sebuah fenomena emergensi yang tak terhingga kompleksnya.

  • Tubuh adalah hardware biologis yang rentan dan fana, sebagai wahana bagi eksistensi.
  • Jiwa adalah operating system yang unik dan dinamis, yang terbentuk dari interaksi ruh dan tubuh, dan merupakan arena bagi pengalaman, emosi, dan moralitas. Jiwa adalah entitas yang bisa disempurnakan atau dilemahkan.
  • Ruh adalah universal power source yang bersifat ilahiah dan misterius, yang tidak hanya menghidupkan tubuh dan jiwa, tetapi juga menjadi sumber dari kesadaran dan pengalaman subjektif yang tidak dapat dijelaskan oleh sains.

Dengan demikian, analogi sistem komputer tetap relevan sebagai alat pedagogis yang kuat, namun laporan ini menunjukkan bahwa manusia jauh melampaui mesin. Interaksi antara ruh, jiwa, dan tubuh menciptakan sebuah fenomena yang memiliki qualia, moralitas, dan kesadaran diri, sebuah dimensi yang tidak akan pernah dapat sepenuhnya direplikasi atau dijelaskan oleh teknologi.


 

5.3 Saran untuk Penelitian dan Refleksi Lanjutan

Misteri tentang eksistensi manusia, terutama hakikat ruh dan kesadaran, tetap terbuka. Penelitian di masa depan dapat mengeksplorasi titik-titik temu antara fisika kuantum dan kesadaran, atau mengembangkan model filosofis baru yang mampu menjembatani kesenjangan penjelasan. Bagi individu, pemahaman ini mengundang refleksi mendalam: untuk mengenali bahwa eksistensi manusia adalah sebuah sintesis yang luar biasa, terdiri dari yang fana dan yang ilahiah, yang dapat dipelajari tetapi juga harus direnungkan dengan kerendahan hati.


 

Daftar Pustaka

 

https://ppssnh.malang.pesantren.web.id/cgi-bin/content.cgi/artikel/eksistensi_ruh.single  

https://kalam.sindonews.com/read/690321/69/hakikat-roh-dalam-pandangan-islam-begini-kata-rasulullah-1645192975  

https://kumparan.com/bacaan-alquran/dalil-alquran-tentang-hakikat-ruh-20eQC4zbhR9  

https://febi.uin-antasari.ac.id/2023/06/nafasmu-adalah-roh-ku-kata-allah/  

https://www.ciputra.ac.id/psy/psikologi-neurokognitif-menyingkap-rahasia-otak-dan-fungsi-mental/  

https://www.alodokter.com/gangguan-psikosomatis-ketika-pikiran-menyebabkan-penyakit-fisik  

https://www.researchgate.net/profile/Agung-Suprapto-3/publication/366634150_DASAR-DASAR_INTERAKSI_MANUSIA_DAN_KOMPUTER/links/63abef1603aad5368e4763cf/DASAR-DASAR-INTERAKSI-MANUSIA-DAN-KOMPUTER.pdf  

https://www.diklatkerja.com/blog/menjelajahi-bidang-interaksi-manusia-komputer-memahami-desain-dan-pengalaman-pengguna  

https://id.quora.com/Apa-beda-antara-jiwa-roh-dan-batin  

https://www.pesansemesta.com/2019/06/mengenal-software-manusia.html  

https://www.goodreads.com/quotes/1306212-physical-excellence-does-not-of-itself-produce-a-good-mind  

https://quizlet.com/299773924/mind-body-and-soul-key-quotes-flash-cards/  

https://www.goodreads.com/quotes/1004532-the-beauty-of-the-soul-shines-out-when-a-man  

https://www.reddit.com/r/askphilosophy/comments/jv0438/aristotle_says_there_is-nothing-in-the-soul-that/  

https://en.wikipedia.org/wiki/Cogito,_ergo_sum  

https://philosophy.stackexchange.com/questions/29026/does-the-famous-descartes-quote-dubito-ergo-cogito-ergo-sum-suggests-secure  

https://en.wikipedia.org/wiki/Hard_problem_of_consciousness  

https://iep.utm.edu/hard-problem-of-conciousness/  

http://journal.umuslim.ac.id/index.php/ltr2/article/view/1183  

https://www.researchgate.net/publication/370105410_Menyingkap_Misteri_Kesadaran_Manusia_Lewat_Filsafat_dan_Neurosains  

https://www.pesansemesta.com/2019/06/mengenal-software-manusia.html  

https://www.ciputra.ac.id/psy/psikologi-neurokognitif-menyingkap-rahasia-otak-dan-fungsi-mental/  

https://www.alodokter.com/gangguan-psikosomatis-ketika-pikiran-menyebabkan-penyakit-fisik  

https://id.quora.com/Apa-beda-antara-jiwa-roh-dan-batin  

https://www.pesansemesta.com/2019/06/mengenal-software-manusia.html

 

Komentar